AMANAT PADA PEMBUKAAN RAPIM ABRI,
TANGGAL 27 MARET 1980, DI PAKANBARU
Saudara-saudara ;
Dengan senang hati saya penuhi permintaan Saudara Menteri Pertahanan
Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata kepada saya untuk hadir dan meresmikan
pembukaan Rapim ABRI yang untuk kali ini berlangsung di wilayah Sumatera, di
Pakanbaru.
Tahun yang lalu Rapim ABRI itu berlangsung di Timor Timur, propinsi yang
termuda dari wilayah negara kita, dan kepada saya dilaporkan bahwa Rapim-rapim
ABRI selanjutnya akan diadakan di Daerah-daerah lain secara bergiliran. Saya
menyetujui sepenuhnya pertimbangan Saudara Menteri Hankam/Pangab mengenai
penyelenggaraan Rapim ABRI di daerah-daerah ini, karena dengan penyelenggaraan
rapat pimpinan ABRI di Daerah-daerah itu diharapkan dapat memantapkan lagi
kemanunggalan ABRI dengan rakyat.
Beradanya seluruh pimpinan ABRI, pimpinan Angkatan-angkatan, para Panglima
Daerah dan Perwira-perwira lainnya dari Pusat di tengah-tengah masyarakat
daerah akan makin menambah pengetahuan dan pengenalan Saudara-saudara semua
mengenai daerah-daerah di seluruh Indonesia ini. Sebaliknya daerah-daerah juga
akan merasa bangga dapat menjadi tuan rumah dari Rapim ABRI yang demikian
penting.
Secara lahiri Saudara-saudara para pimpinan ABRI dan Perwira-perwira Tinggi
memang hanya beberapa hari berada di tengah-tengah masyarakat setiap daerah,
namun berlangsungnya Rapim ABRI di daerah-daerah itu akan terus memperkuat
hubungan batin antara ABRI dengan rakyat. Hubungan batin antara ABRI dengan
rakyat yang kuat itulah yang menjadi kunci sukses tugas-tugas ABRI, baik
sebagai unsur kekuatan hankam maupun sebagai kekuatan sosial.
Rapim ABRI kali ini mempunyai arti yang penting, baik dalam rangka memantapkan
konsolidasi ABRI, maupun dalam rangka meningkatkan pengabdian ABRI dalam
mensukseskan tugas-tugas nasional, khususnya tugas pembangunan bangsa dan
negara. Konsolidasi kekuatan ABRI itu jelas sangat perlu dilaksanakan secara
terus menerus, apalagi dalam kita memasuki dasawarsa 80 an ini.
Keadaan dunia pada umumnya, termasuk keadaan wilayah di sekitar Asia Tenggara
ini diliputi oleh berbagai ketegangan dan ancaman peperangan. Keadaan dunia
yang demikian itu mengharuskan kita bersikap sangat waspada dan selalu siap
siaga, baik untuk menjaga dan melindungi keamanan seluruh wilayah dan
kedaulatan negara, maupun dalam rangka mensukseskan dan mengamankan
pelaksanaan tugas terpokok kita, ialah melaksanakan pembangunan untuk kemajuan
dan kesejahteraan seluruh rakyat.
Dalam hubungan ini pedoman sikap bangsa kita sudah jelas, ialah : Ke luar,
melalui segala cara dan forum, kita harus ikut menghindarkan dunia dari bahaya
peperangan. Di lain pihak kita memperkuat usaha perdamaian dan memperhebat
kerjasama antar bangsa untuk pembangunan seluruh umat manusia. Sikap kita yang
demikian itu tidak lain adalah pelaksanaan dari tugas negara dan bangsa
Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar kita,
ialah ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ke dalam, kita harus terus memperkuat
ketahanan nasional di segala bidang, agar kita mampu menghadapi segala
kemungkinan; baik ketahanan di lapangan ideologi, politik, ekonomi, sosial
maupun pertahanan keamanan sendiri.
Keadaan dan arah perkembangan dunia itu perlu terus kita ikuti dan kita
perhitungkan sebaik-baiknya untuk mengamankan jalannya pembangunan kita dan
untuk merancang kelanjutan pembangunan ABRI sendiri di masa datang, agar ABRI
benar-benar dapat tetap kuat dan tangguh serta mampu melaksanakan dwi
fungsinya.
Dalam pada itu setiap rencana dan kebijaksanaan yang ditempuh oleh ABRI hanya
akan berhasil dilaksanakan, apabila kebijaksanaan tersebut dapat dimengerti
dan didukung oleh Rakyat maupun juga dimengerti dan diyakini kebenarannya oleh
warga ABRI sendiri, sehingga merupakan motivasi yang kuat untuk
melaksanakannya.
Saudara-saudara;
Dalam rangka memantapkan pelaksanaan Dwi Fungsi itu maka konsolidasi ABRI
perlu dilanjutkan. Dalam hubungan ini, maka pembangunan ABRI sendiri harus
dilanjutkan dan dimantapkan. Seperti berulangkali pernah saya katakan,
pembangunan ABRI dan pembangunan pertahanan keamanan kita itu merupakan bagian
dari keseluruhan pembangunan nasional. Dan setelah kita melaksanakan REPELITA
I dan REPELITA II, maka dalam REPELITA III ini keadaan ekonomi dan keuangan
negara telah meningkat dan jauh lebih baik jika dibanding dengan keadaan kita
waktu memulai REPELITA I dahulu, sehingga kemampuan negara juga meningkat yang
memungkinkan menyediakan anggaran yang lebih besar untuk pembangunan
ABRI/HANKAM.
Meskipun demikian hendaknya tetap disadari bahwa bagaimanapun juga, kemampuan
keuangan negara tetap terbatas, karena masih banyak sektor-sektor pembangunan
lain yang harus kita garap untuk mempercepat kemajuan dan makin meratakan
keadilan. Karena itu anggaran yang tersedia bagi pembangunan pertahanan
keamanan harus digunakan sebaik-baiknya.
Dan apabila kita sekarang mulai dapat meningkatkan pembangunan fisik ABRI dan
menyediakan peralatan senjata yang lebih baik, maka hendaknya jangan sampai
dilupakan bahwa faktor manusia jualah yang menentukan. Oleh karena itu dalam
setiap tahap pembangunan dan setiap langkah konsolidasi, pembinaan mental dan
semangat prajurit TNI/ABRI yang berlandaskan kepada Pancasila, Undang-Undang
Dasar 1945, Sapta Marga dan Sumpah Prajurit adalah mutlak, disamping harus
selalu memikirkan kemungkinan meningkatkan kesejahteraan prajurit dan
keluarganya.
Karena pembangunan pertahanan keamanan itu jelas memerlukan biaya yang tidak
murah, maka pelaksanaannya harus diusahakan seefektif dan seefisien mungkin
dengan mengarahkan pengadaan peralatan dan berbagai fasilitas yang dibutuhkan,
tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab tantangan-tantangan masa
sekarang, melainkan juga diarahkan untuk kelanjutan pembangunan jangka
panjang. Karena itu dalam pengadaan peralatan misalnya, hendaknya dipilih yang
tidak lekas usang. Demikian pula dalam membangun pangkalan untuk kesatuan
operasional berikut asrama dan perumahan prajurit misalnya, supaya diusahakan
agar hasilnya yang sebaik mungkin agar dapat tahan lama. Sedangkan lokasinya
hendaknya dipilih di tempat yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan perang
wilayah kita dan sekaligus dapat mendorong pengembangan wilayah.
Penyediaan fasilitas-fasilitas pendidikan dan latihan juga perlu terus
ditingkatkan dan diperbaiki mutunya pada semua tingkat dan jenjang. Hal ini
sangat penting untuk penggemblengan dan peningkatan mutu dan mental personil
ABRI, sehingga dapat diandalkan kemampuannya dan selalu dalam kondisi yang
segar dan kesiagaan.
Salah satu hal penting yang saya minta diperhatikan dalam pembangunan ABRI
adalah usaha untuk meningkatkan produksi dalam negeri agar ABRI pada saatnya
dapat memenuhi kebutuhannya dengan produksi sendiri. Karena itulah dewasa ini
kita telah mulai menggarap pengembangan industri pertahanan, yang sekaligus
kita usahakan untuk dikaitkan dengan pengembangan industri secara nasional
dalam rangka memenuhi kebutuhan nasional akan berbagai hasil industri dan
jasa. Dalam hal ini saya sangat menghargai usaha nyata ABRI untuk makin banyak
menggunakan produksi dalam negeri, terutama untuk perbekalan umum.
Memang, sesungguhnya banyak yang dapat kita lakukan untuk mempercepat
pembangunan ini dengan memadukan berbagai sektor pembangunan kita dalam
kerangka pembangunan nasional.
Demikian pula kebijaksanaan pembangunan dan pembinaan kekuatan ABRI harus
benar-benar terpadu dan terarah dalam rangka pembinaan fungsi-fungsi ABRI
sebagai alat pertahanan keamanan dan sebagai kekuatan sosial. Dalam hubungan
ini saya ingin menegaskan bahwa dalam rangka melaksanakan tugas-tugas sebagai
alat pertahanan keamanan, ABRI harus berdiri di atas semua golongan, karena
ABRI adalah aparat negara pelindung seluruh rakyat dan segenap tumpah darah
Indonesia.
ABRI yang merasa bertanggung jawab dan berkewajiban untuk membela dan menjaga
Pancasila dengan tidak mengenal menyerah, seperti yang dengan jelas dan tegas
dirumuskan dalam Sapta Marga, dalam perjuangan mendukung dan membela ideologi
negara Pancasila, bukan saja melaksanakan peranannya sebagai kekuatan hankam,
tetapi juga sebagai kekuatan sosial. Sebagai kekuatan sosial maka ABRI
menggunakan cara-cara yang demokratis dan konstitusional, seperti yang
diwajibkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 itu sendiri, dan tidak
dengan kekerasan atau paksaan, apalagi dengan menggunakan senjata.
Karena itu, sebagai kekuatan sosial ABRI dalam memperjuangkan cita-citanya dan
dalam menjaga kelestarian Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 bergandengan
tangan dan bersama-sama dengan kekuatan sosial politik serta
organisasi-organisasi masyarakat, yang terpercaya dan setia kepada
Pancasila.
Kesetiaan setiap prajurit ABRI kepada Pancasila tidak pernah akan berhenti
selama hidupnya. Ini berarti: walaupun seorang prajurit ABRI telah memasuki
masa pensiun, namun perjuangannya dalam mempertahankan dan melaksanakan
Pancasila tetap dilanjutkan. Di sinilah arti yang sangat penting bagi Pepabri,
sebagai wadah bersama dari segenap purnawirawan ABRI untuk melanjutkan
tekadnya dalam mempertahankan dan melaksanakan Pancasila. Karena Pancasila
adalah milik seluruh rakyat Indonesia, maka dalam perjuangan mempertahankan
Pancasila ini Pepabri juga harus erat bergandengan tangan dan bahu membahu
dengan kekuatan sosial politik yang benar-benar setia kepada Pancasila. Dengan
demikian panggilan hidup setiap prajurit ABRI dalam mempertahankan Pancasila
itu mendapatkan saluran-saluran yang jelas, baik selama ia berdinas aktif
dalam ABRI maupun setelah ia memasuki masa purnawirawan. Karena itu saya juga
minta agar pimpinan ABRI terus mengadakan hubungan dan kerjasama yang erat
dengan Pepabri. Dengan demikian maka perjuangan secara demokratis dan
konstitusional dalam mempertahankan Pancasila ini dapat terus berlangsung dan
berkesinambungan, baik selama aktif sebagai anggota ABRI maupun setelah
menjadi purnawirawan.
Dalam rangka ini maka saya sangat menyetujui usaha-usaha Pepabri untuk terus
mengkonsolidasi organisasinya dengan mengikut sertakan para pimpinan/pembina
dan bekas pimpinan/pembina ABRI dalam pembinaan Pepabri.
Pelaksanaan Dwi Fungsi ABRI memang harus terus kita konsolidasikan agar dapat
dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan tantangan perjuangan yang dihadapi oleh
Bangsa dan Negara.
Dwi Fungsi ABRI itu telah dikukuhkan dalam salah satu Ketetapan MPR sebagai
hasil Sidang Umum MPR tahun 1978 yang lalu. Karena itu adalah kewajiban ABRI
untuk melaksanakan keputusan rakyat melalui MPR tadi dengan sebaik-baiknya dan
dengan penuh rasa tanggung jawab. Dwi Fungsi ABRI ini mempunyai akar yang kuat
dalam sejarah lahir dan pertumbuhannya ABRI sejak tahun 1945. Sejarah
kadang-kadang mencatat surutnya peranan ABRI sebagai kekuatan sosial politik
itu. Tetapi sejarah juga tidak jarang memanggil tampilnya ABRI sebagai
kekuatan sosial tadi dalam peranan yang lebih besar.
Dewasa ini tugas dan tantangan nasional yang dihadapi bersama adalah
menegakkan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila, yang
harus dilaksanakan dengan pembangunan di segala bidang yang berencana,
bertahap dan bersinambungan. Dalam rangka ini maka salah satu tugas ABRI yang
penting dalam melaksanakan Dwi Fungsinya adalah mensukseskan pelaksanaan
Pemilu yang akan datang, di samping berusaha mensukseskan pelaksanaan
pembangunan di bidang ekonomi dan sosial.
Dalam hubungan ini maka haruslah selalu disadari bahwa baik dalam melaksanakan
tugasnya sebagai kekuatan pertahanan keamanan maupun dalam menjalankan
peranannya sebagai kekuatan sosial politik, ABRI harus selalu menunjukkan
sikap kekeluargaan dan kebersamaan dengan rakyat, penuh keramah-tamahan dan
keterbukaan. Sikap itu tidak berarti bahwa ABRI tidak dapat bertindak tegas
untuk menegakkan hukum dan ketertiban yang adil. ABRI harus dapat membedakan
kapan ia harus bertindak sebagai kekuatan pertahanan keamanan dan kapan ia
harus berperan sebagai kekuatan sosial. Ini memerlukan kedewasaan sikap dan
kebijaksanaan yang dalam. Ini jelas bukan hal yang mudah. Akan tetapi juga
bukan hal yang mustahil dilaksanakan.
Karena itulah segala langkah dan tindakan ABRI harus benar-benar dapat
dimengerti oleh rakyat, harus benar-benar dirasakan oleh rakyat bahwa tindakan
dan langkah tadi untuk kebaikan dan untuk menjaga keselamatan dan ketenangan
rakyat. Dan lebih dari itu, semua langkah dan tindakan ABRI pertama-tama harus
dimengerti oleh setiap Perwira, Bintara dan Prajurit ABRI sendiri. Dengan
demikian ada dorongan dan keyakinan yang kuat dalam hatinya, bahwa langkah dan
tindakan yang dilaksanakannya itu adalah baik dan benar untuk rakyat.
ABRI harus berbuat untuk kepentingan dan yang paling baik bagi rakyat. Karena
dalam tahapan perjuangan dewasa ini yang paling dibutuhkan dan yang menjadi
tuntutan rakyat adalah kelanjutan dan kelancaran pembangunan, maka ABRI juga
harus ikut dan bersama-sama rakyat dalam pembangunan tadi.
Di samping memberikan warga-warganya yang terbaik untuk melaksanakan
tugas-tugas kekaryaan, baik dalam lingkungan eksekutif maupun lingkungan
legislatif maka perlu dilanjutkan pelaksanaan Operasi Bakti, khususnya untuk
daerah-daerah yang memerlukan tanpa mengurangi kemampuan ABRI dalam membangun
dirinya sendiri. Operasi-operasi bakti itu harus dilakukan baik dalam masa
perang untuk rehabilitasi daerah maupun di masa damai untuk membangun
masyarakat. Operasi bakti ini harus merupakan pengabdian ABRI kepada rakyat
dan harus menangani bidang-bidang kegiatan yang belum mampu dilaksanakan oleh
rakyat atau untuk membantu instansi-instansi lain yang belum mampu
menanganinya. Saya mengharapkan agar masalah-masalah yang saya kemukakan tadi
dapat menjadi bahan pembahasan dalam Rapim sekarang ini, sebagai bahan
pemikiran konsolidasi ABRI selanjutnya.
Kita memang harus memiliki ABRI yang kuat di masa datang, terutama untuk
melindungi keselamatan rakyat dan kedaulatan negara kita yang demikian luas
wilayahnya dan untuk memantapkan pelaksanaan Dwi Fungsi ABRI. Pembangunan ABRI
di masa datang harus tetap kita kembangkan dalam rangka pengembangan perang
rakyat semesta. Pengembangan pertahanan keamanan kita memang harus disesuaikan
dengan kebutuhan dan kemajuan zaman, namun sumbernya haruslah tetap pada
perang rakyat semesta tadi.
Berhubung dengan diadakannya Latihan Gabungan ABRI 1980 yang segera akan
diadakan di sekitar daerah ini, saya mengharapkan agar hasil-hasilnya diteliti
dan dikaji sebaik-baiknya, untuk penyempurnaan pembangunan ABRI di masa datang
dan pembangunan sistem pertahanan keamanan kita.
Karena itu saya minta kepada segenap kesatuan dan prajurit yang mengikutinya
agar melaksanakan latihan ini dengan penuh kesungguhan.
Kepada Saudara-saudara semua saya titipkan pesan agar terus membina ABRI yang
tangguh membela negara dan sanggup ikut membangun bangsa. Untuk itu jadikanlah
ABRI sebagai semen pengikat persatuan rakyat dan rapatkanlah barisan
pembangunan.
Dengan penggarisan kebijaksanaan dan pesan-pesan tadi, akhirnya saya nyatakan
Rapim ABRI 1980 ini secara resmi dimulai.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberi bimbingan dan kekuatan lahir batin
kepada kita semua dalam melanjutkan pembangunan kepada rakyat, bangsa dan
negara ini.
Terima kasih.
Pakanbaru, 27 Maret 1980
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SOEHARTO