Teks Sambutan Presiden Republik Indonesia tentang Sambutan Pada Pembukaan
Musabaqah Tilawatil Quran Tingkat Nasional XVII, tanggal 17 Juli 1994.
Sumber:
HM Soeharto. https://soehartolibrary.id/1994-07-17-sambutan-presiden-soeharto-pada-pembukaan-mtq-tingkat-nasional-xvii/.
Sumber:
HM Soeharto. https://soehartolibrary.id/1994-07-17-sambutan-presiden-soeharto-pada-pembukaan-mtq-tingkat-nasional-xvii/.
SAMBUTAN PADA PEMBUKAAN
MUSABAQAH TILAWATIL QUR'AN
TINGKAT NASIONAL XVII
PADA TANGGAL 17 JULI 1994
DI PAKANBARU, RIAU
Assalamu 'alaikum wr. wb;
Kaum muslimin yang berbahagia;
Hadirin yang terhormat;
Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji syukur yang setulus-tulusnya ke hadirat Allah SWT, sebab hanya berkat limpahan taufik dan hidayah-Nyalah kita dapat menyelenggarakan kembali Musabaqah Tilawatil Qur'an Tingkat Nasional, yang kali ini bertempat di kota Pakanbaru. Kepada masyarakat Pakanbaru khususnya dan masyarakat Riau umumnya, saya sampaikan ucapan selamat atas kehormatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan musabaqah ini.
Adalah sangat membesarkan hati kita bahwa kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur'an sudah mendapat tempat di hati masyarakat kita. Musabaqah Tilawatil Qur'an telah memasyarakat dan membudaya sebagai salah satu syiar keagamaan kaum muslimin bangsa kita. Musabaqah Tilawatil Qur'an juga dilakukan dalam berbagai perayaan untuk menyatakan kegembiraan masyarakat kita.
Melalui Musabaqah Tilawatil Qur'an, kaum muslimin Indonesia mengungkapkan kecintaannya yang makin dalam terhadap kitab suci al-Qur'an.
Kita sangat bersyukur bahwa kehidupan kaum muslimin di negeri kita makin akrab dengan al-Qur'an. Pengajaran membaca al-Qur'an untuk anak-anak kita, misalnya, berkembang sangat pesat. Kita bangga karena itu. Hal ini merupakan modal yang sangat besar artinya untuk pembinaan kesadaran dan penghayatan keagamaan anak-anak kita. Anak-anak kita inilah generasi penerus sesudah kita para orang tua.
Pembinaan kesadaran dan penghayatan keagamaan bagi anak-anak sangat penting bagi pengembangan sumber daya manusia bangsa kita. Pembinaan kesadaran dan penghayatan keagamaan merupakan salah satu segi perwujudan hakikat pembangunan nasional kita, yaitu pembangunan manusia Indonesia yang utuh dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya.
Hal ini juga penting bagi upaya untuk menyiapkan generasi baru yang dapat kita andalkan. Yaitu generasi yang memiliki ketahanan mental dan spiritual yang tinggi dalam dunia yang sedang mengalami proses globalisasi. Proses globalisasi ini besar pengaruhnya kepada kehidupan kita. Globalisasi itu membawa perubahan dalam berbagai bidang kehidupan manusia.
Proses globalisasi adalah arus sejarah yang tidak mungkin dihindari. Kemajuan yang pesat dalam bidang telekomunikasi dan transportasi membuat bumi seakan-akan makin kecil. Batas antara satu negara dengan negara lain makin kabur dan hubungan antarbangsa makin bertambah erat. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus menerima arus globalisasi itu. Karena itu kita harus siap bergumul di dalamnya. Kita harus waspada, sebab jika tidak kita akan hanyut terbawa arus globalisasi dengan segala dampaknya. Bahkan, tidak mustahil kita akan kehilangan jati diri dan kepribadian kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa.
Untuk itu, kita harus mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh secara intelektual, mental, moral maupun spiritual. Karena itu kita harus membenahi dunia pendidikan kita sehingga mampu menjawab tuntutan globalisasi dunia.
Sesungguhnya pendidikan adalah kunci kemajuan suatu bangsa. Dunia pendidikanlah yang merupakan wahana penggodogan generasi baru bangsa kita. Melalui pendidikan diharapkan dan diusahakan akan lahir manusia-manusia Indonesia yang tanggap dan mampu menjawab tantangan zamannya.
Kita menyadari sedalam-dalamnya bahwa semangat al-Qur'an adalah semangat kemajuan. Al-Qur'an menekankan, bahwa kemajuan tidaklah datang begitu saja. Kemajuan tidak akan terjelma dengan percuma. Al-Qur'an menekankan bahwa kita tidak akan memperoleh hasil tanpa usaha. Ini berarti, kalau kita ingin maju kita harus bekerja keras. Kita harus membanting tulang. Kita harus memeras keringat.
Semangat kerja yang diajarkan oleh al-Qur'an itu perlu kita hayati bersama. Semua kita mendambakan kemajuan. Ini berarti kita semua harus bekerja menurut kemampuan kita masing-masing. Saya sengaja menekankan hal ini, karena pembangunan kita baru saja memasuki tahap baru; era tinggal landas.
Kaum muslimin yang berbahagia;
Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang sangat menekankan kepada masalah pengembangan sumber daya manusia. Sebagai khalifah Tuhan, manusia berkewajiban memelihara kelestarian alam sebagai anugerah Tuhan dan memanfaatkannya demi kesejahteraan umat manusia.
Hanya manusia yang berkualitaslah yang mampu melaksanakan tugas yang sebaik-baiknya sebagai khalifah yang demikian tadi.
Pembangunan nasional yang kita lakukan, pada hakikatnya, tidak lain daripada pelaksanaan fungsi kekhalifahan manusia itu. Kerja dan karya pembangunan, seperti pernah saya katakan, adalah amal saleh kita sebagai bangsa. Karena itu, bagi kaum muslimin, pembangunan bukan sekedar kewajiban nasional tetapi juga sekaligus sebagai panggilan keagamaan.
Dengan mengemukakan hal ini saya ingin mengajak kita semua untuk lebih mengerahkan potensi yang kita miliki untuk membangun bangsa dan negara kita.
Kita bersyukur bahwa bangsa kita telah berhasil menyelesaikan PJP I. Kita telah berhasil mencapai kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, kita tidak boleh cepat berpuas diri. Masih banyak di antara kita yang belum dapat memanfaatkan hasil-hasil pembangunan. Meskipun jumlah mereka terus berkurang, namun tidak sedikit di antara kita yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Bagi kaum muslimin, pengentasan Saudara-saudara kita yang masih berada di bawah garis kemiskinan itu adalah kewajiban yang lekat dengan keberagamaan kita. Bukankah al-Qur'an menegaskan bahwa kita dianggap mendustakan agama apabila kita tidak memperhatikan nasib anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Bukankah Nabi kita juga menegaskan bahwa iman kita masih dinilai belum sempurna bila masih ada Saudara-saudara kita yang menderita serba kekurangan sedangkan kita hidup berkecukupan.
Dengan mengatakan hal ini saya ingin mengajak kita semua agar dalam kesempatan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an, kita tidak melupakan pesan kitab suci kita untuk memperhatikan nasib Saudara-saudara kita yang masih dirundung kemiskinan.
Kalau kaum muslimin mampu mengumpulkan dana yang besar untuk kegiatan semacam musabaqah ini, maka kita pun seharusnya mampu untuk mengerahkan dana untuk usaha-usaha pemberantasan kemiskinan.
Kaum muslimin yang berbahagia;
Kita harus dengan sungguh-sungguh mengembangkan dan memadukan segenap potensi kita untuk mewujudkan solidaritas sosial pada saat kita berusaha meningkatkan pelaksanaan pembangunan nasional bangsa kita. Dukungan masyarakat sangatlah diperlukan untuk menyukseskan pelaksanaan pembangunan. Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an ini membuktikan bahwa dengan dukungan masyarakat kita dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan besar yang langsung menyangkut nasib Saudara-saudara kita yang masih hidup serba kekurangan. Dalam kesempatan ini saya ingin mengajak organisasi-organisasi sosial keagamaan untuk membuat program beasiswa guna menyantuni anak-anak usia sekolah yang tidak mampu.
Program pemberian beasiswa mempunyai nilai sangat strategis. Ia tidak hanya memenuhi kebutuhan sesaat saja. Program beasiswa mempunyai kaitan langsung dengan pembinaan sumber daya manusia yang mempunyai jangkauan ke masa depan. Dengan program beasiswa kita berusaha memberikan kail, dan bukan ikan. Dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk memperoleh pendidikan, kita berusaha mengembangkan mereka agar mampu menjadi khalifah Tuhan yang baik.
Selama ini organisasi-organisasi sosial keagamaan cukup berhasil dalam penyediaan lembaga-lembaga pendidikan. Sekarang, sudah saatnya, lebih memberikan perhatian pada pengorganisasian pemberian beasiswa pada anak-anak dari keluarga yang tidak mampu.
Sesunggundanyalah al-Qur'an tidak hanya untuk dibaca. Al-Qur'an diturunkan adalah untuk diamalkan. Hanya dengan mengamalkan pesan-pesan al-Qur'an, kita kaum muslimin akan mampu keluar dari lembah kegelapan dan memasuki kehidupan yang cerah dengan kemajuan.
Kaum muslimin yang berbahagia;
Demikianlah ajakan yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini. Semoga mendapat perhatian dari kita semua.
Akhirnya, dengan diiringi ucapan Bismillahirahmannirahim, dengan ini Musabaqah Tilawatil Qur'an Tingkat Nasional ke-17, saya nyatakan resmi dibuka.
Semoga Allah SWT memberkahi kita semua.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Pakanbaru, 17 Juli 1994
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
SOEHARTO
MUSABAQAH TILAWATIL QUR'AN
TINGKAT NASIONAL XVII
PADA TANGGAL 17 JULI 1994
DI PAKANBARU, RIAU
Assalamu 'alaikum wr. wb;
Kaum muslimin yang berbahagia;
Hadirin yang terhormat;
Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji syukur yang setulus-tulusnya ke hadirat Allah SWT, sebab hanya berkat limpahan taufik dan hidayah-Nyalah kita dapat menyelenggarakan kembali Musabaqah Tilawatil Qur'an Tingkat Nasional, yang kali ini bertempat di kota Pakanbaru. Kepada masyarakat Pakanbaru khususnya dan masyarakat Riau umumnya, saya sampaikan ucapan selamat atas kehormatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan musabaqah ini.
Adalah sangat membesarkan hati kita bahwa kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur'an sudah mendapat tempat di hati masyarakat kita. Musabaqah Tilawatil Qur'an telah memasyarakat dan membudaya sebagai salah satu syiar keagamaan kaum muslimin bangsa kita. Musabaqah Tilawatil Qur'an juga dilakukan dalam berbagai perayaan untuk menyatakan kegembiraan masyarakat kita.
Melalui Musabaqah Tilawatil Qur'an, kaum muslimin Indonesia mengungkapkan kecintaannya yang makin dalam terhadap kitab suci al-Qur'an.
Kita sangat bersyukur bahwa kehidupan kaum muslimin di negeri kita makin akrab dengan al-Qur'an. Pengajaran membaca al-Qur'an untuk anak-anak kita, misalnya, berkembang sangat pesat. Kita bangga karena itu. Hal ini merupakan modal yang sangat besar artinya untuk pembinaan kesadaran dan penghayatan keagamaan anak-anak kita. Anak-anak kita inilah generasi penerus sesudah kita para orang tua.
Pembinaan kesadaran dan penghayatan keagamaan bagi anak-anak sangat penting bagi pengembangan sumber daya manusia bangsa kita. Pembinaan kesadaran dan penghayatan keagamaan merupakan salah satu segi perwujudan hakikat pembangunan nasional kita, yaitu pembangunan manusia Indonesia yang utuh dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya.
Hal ini juga penting bagi upaya untuk menyiapkan generasi baru yang dapat kita andalkan. Yaitu generasi yang memiliki ketahanan mental dan spiritual yang tinggi dalam dunia yang sedang mengalami proses globalisasi. Proses globalisasi ini besar pengaruhnya kepada kehidupan kita. Globalisasi itu membawa perubahan dalam berbagai bidang kehidupan manusia.
Proses globalisasi adalah arus sejarah yang tidak mungkin dihindari. Kemajuan yang pesat dalam bidang telekomunikasi dan transportasi membuat bumi seakan-akan makin kecil. Batas antara satu negara dengan negara lain makin kabur dan hubungan antarbangsa makin bertambah erat. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus menerima arus globalisasi itu. Karena itu kita harus siap bergumul di dalamnya. Kita harus waspada, sebab jika tidak kita akan hanyut terbawa arus globalisasi dengan segala dampaknya. Bahkan, tidak mustahil kita akan kehilangan jati diri dan kepribadian kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa.
Untuk itu, kita harus mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh secara intelektual, mental, moral maupun spiritual. Karena itu kita harus membenahi dunia pendidikan kita sehingga mampu menjawab tuntutan globalisasi dunia.
Sesungguhnya pendidikan adalah kunci kemajuan suatu bangsa. Dunia pendidikanlah yang merupakan wahana penggodogan generasi baru bangsa kita. Melalui pendidikan diharapkan dan diusahakan akan lahir manusia-manusia Indonesia yang tanggap dan mampu menjawab tantangan zamannya.
Kita menyadari sedalam-dalamnya bahwa semangat al-Qur'an adalah semangat kemajuan. Al-Qur'an menekankan, bahwa kemajuan tidaklah datang begitu saja. Kemajuan tidak akan terjelma dengan percuma. Al-Qur'an menekankan bahwa kita tidak akan memperoleh hasil tanpa usaha. Ini berarti, kalau kita ingin maju kita harus bekerja keras. Kita harus membanting tulang. Kita harus memeras keringat.
Semangat kerja yang diajarkan oleh al-Qur'an itu perlu kita hayati bersama. Semua kita mendambakan kemajuan. Ini berarti kita semua harus bekerja menurut kemampuan kita masing-masing. Saya sengaja menekankan hal ini, karena pembangunan kita baru saja memasuki tahap baru; era tinggal landas.
Kaum muslimin yang berbahagia;
Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang sangat menekankan kepada masalah pengembangan sumber daya manusia. Sebagai khalifah Tuhan, manusia berkewajiban memelihara kelestarian alam sebagai anugerah Tuhan dan memanfaatkannya demi kesejahteraan umat manusia.
Hanya manusia yang berkualitaslah yang mampu melaksanakan tugas yang sebaik-baiknya sebagai khalifah yang demikian tadi.
Pembangunan nasional yang kita lakukan, pada hakikatnya, tidak lain daripada pelaksanaan fungsi kekhalifahan manusia itu. Kerja dan karya pembangunan, seperti pernah saya katakan, adalah amal saleh kita sebagai bangsa. Karena itu, bagi kaum muslimin, pembangunan bukan sekedar kewajiban nasional tetapi juga sekaligus sebagai panggilan keagamaan.
Dengan mengemukakan hal ini saya ingin mengajak kita semua untuk lebih mengerahkan potensi yang kita miliki untuk membangun bangsa dan negara kita.
Kita bersyukur bahwa bangsa kita telah berhasil menyelesaikan PJP I. Kita telah berhasil mencapai kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, kita tidak boleh cepat berpuas diri. Masih banyak di antara kita yang belum dapat memanfaatkan hasil-hasil pembangunan. Meskipun jumlah mereka terus berkurang, namun tidak sedikit di antara kita yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Bagi kaum muslimin, pengentasan Saudara-saudara kita yang masih berada di bawah garis kemiskinan itu adalah kewajiban yang lekat dengan keberagamaan kita. Bukankah al-Qur'an menegaskan bahwa kita dianggap mendustakan agama apabila kita tidak memperhatikan nasib anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Bukankah Nabi kita juga menegaskan bahwa iman kita masih dinilai belum sempurna bila masih ada Saudara-saudara kita yang menderita serba kekurangan sedangkan kita hidup berkecukupan.
Dengan mengatakan hal ini saya ingin mengajak kita semua agar dalam kesempatan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an, kita tidak melupakan pesan kitab suci kita untuk memperhatikan nasib Saudara-saudara kita yang masih dirundung kemiskinan.
Kalau kaum muslimin mampu mengumpulkan dana yang besar untuk kegiatan semacam musabaqah ini, maka kita pun seharusnya mampu untuk mengerahkan dana untuk usaha-usaha pemberantasan kemiskinan.
Kaum muslimin yang berbahagia;
Kita harus dengan sungguh-sungguh mengembangkan dan memadukan segenap potensi kita untuk mewujudkan solidaritas sosial pada saat kita berusaha meningkatkan pelaksanaan pembangunan nasional bangsa kita. Dukungan masyarakat sangatlah diperlukan untuk menyukseskan pelaksanaan pembangunan. Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an ini membuktikan bahwa dengan dukungan masyarakat kita dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan besar yang langsung menyangkut nasib Saudara-saudara kita yang masih hidup serba kekurangan. Dalam kesempatan ini saya ingin mengajak organisasi-organisasi sosial keagamaan untuk membuat program beasiswa guna menyantuni anak-anak usia sekolah yang tidak mampu.
Program pemberian beasiswa mempunyai nilai sangat strategis. Ia tidak hanya memenuhi kebutuhan sesaat saja. Program beasiswa mempunyai kaitan langsung dengan pembinaan sumber daya manusia yang mempunyai jangkauan ke masa depan. Dengan program beasiswa kita berusaha memberikan kail, dan bukan ikan. Dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk memperoleh pendidikan, kita berusaha mengembangkan mereka agar mampu menjadi khalifah Tuhan yang baik.
Selama ini organisasi-organisasi sosial keagamaan cukup berhasil dalam penyediaan lembaga-lembaga pendidikan. Sekarang, sudah saatnya, lebih memberikan perhatian pada pengorganisasian pemberian beasiswa pada anak-anak dari keluarga yang tidak mampu.
Sesunggundanyalah al-Qur'an tidak hanya untuk dibaca. Al-Qur'an diturunkan adalah untuk diamalkan. Hanya dengan mengamalkan pesan-pesan al-Qur'an, kita kaum muslimin akan mampu keluar dari lembah kegelapan dan memasuki kehidupan yang cerah dengan kemajuan.
Kaum muslimin yang berbahagia;
Demikianlah ajakan yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini. Semoga mendapat perhatian dari kita semua.
Akhirnya, dengan diiringi ucapan Bismillahirahmannirahim, dengan ini Musabaqah Tilawatil Qur'an Tingkat Nasional ke-17, saya nyatakan resmi dibuka.
Semoga Allah SWT memberkahi kita semua.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Pakanbaru, 17 Juli 1994
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
SOEHARTO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar